085.641.526.769 "Tingwe Terakhir Sebelum Hujan"
Senja menggantung malas di ujung kampung ketika Raka duduk di teras warung kopi langganannya. Angin membawa aroma tanah kering dan suara motor yang lalu-lalang di jalan sempit. Di atas meja, sebungkus tembakau, kertas papir, dan filter kecil sudah siap. Dengan gerakan yang terlatih, ia mulai tingwe—melinting sendiri rokoknya—sambil menunggu sahabat lamanya datang. "Masih aja setia sama tingwe?" tanya Dimas yang baru tiba. Raka tersenyum tipis. "Bukan soal hemat. Ada rasanya sendiri." Dimas tertawa. "Rasanya apa?" Raka tidak langsung menjawab. Ia meratakan tembakau, menggulung papir perlahan, lalu menjilat ujung kertas dan menekannya rapi. "Rasanya kayak hidup," katanya akhirnya. "Kalau terlalu buru-buru, berantakan. Kalau terlalu santai, keburu hujan." Belum sempat Dimas membalas, langit yang sejak tadi kelabu tiba-tiba menggeram. Kilat menyambar jauh di balik sawah. Tetes pertama jatuh tepat saat Raka menyalakan hasil lintingannya. Mer...